jump to navigation

Nonton Konser Trisum 20 April 2006

Posted by alwi in : persona , varya , trackback

Selama April-Mei 2006 ini ada banyak pertunjukan yang ‘oke’. Diantaranya ada Tiesto, Trisum, Korn, Toto, Titiek Puspa dan Anggun. Tapi berhubung saya pengangguran walaupun bhanyak ghaya, akhirnya saya harus membuat skala prioritas untuk nonton yang mana.

Untuk April ini akhirnya saya memilih nonton Trisum, trio pendekar gitar Jazzy Indonesia yaitu Balawan-Bujana-Tophati. Sempat konflik dalam hati antara memilih nonton Trisum atau Tiesto. Asli saya juga pengen banget datang ke pertunjukannya DJ Tiesto itu, walaupun saya bukan banci dugem tapi saya tahu Tiesto keren banget. Tapi sudah lah saya ke Trisum aja. Tiesto masih bisa dicari CD/DVD-nya, tapi Trisum ga boleh missed dan harus lihat langsung. Man.., mereka jarang banget main bareng.

Persiapan
Sebelum nonton, saya cari info dulu tentang acara itu ke website sponsor acara tersebut, tapi mungkin belum ada karena konser di Jakarta masih lebih dari 2 minggu lagi. Saya bilangin adik saya Emma supaya tanggal 19 April langsung pulang karena mau saya ajak nonton Trisum.

Beberapa hari sebelum konser, saya lihat lagi ke website sponsor acara tersebut dan sudah ada info tempat dan jam pertunjukan, tapi tidak ada info pembelian tiket. Pertunjukan digelar tanggal 19 April 2006, pukul 19:30 WIB di Balai Sarbini - Plaza Semanggi. Di website ticketbox-Detik juga tidak menjual tiket pertunjukan ini. Akhirnya saya dapat info dari RajaKarcis.com dan sudah tahu harganya. Tapi saya santai aja ga langsung pesan. Di RajaKarcis.com tidak ada seating layout, jadi saya mau go-show aja sekalian tanya seating-nya.

Pas hari ‘H’ ada gangguan dikit. Saya ada kerjaan sepanjang siang dan harus ke klien juga. Kamera digital ga bisa dibawa karena memory-cardnya ga ada. Untung Emma baru beli HP Samsung CDMA yang ada kameranya. Akhirnya saya ke klien sore hari dan udah mepet banget. Alhamdulillah lancar dan ga ada gangguan. Selesai dari klien, langsung jemput Emma –dia dah nunggu hampir 1 jam di pintu tol Jatibening– dan berangkat ke Balai Sarbini.

Ga Kebagian Tiket
Tiba di Balai Sarbini sudah terlambat sekitar 15 menit. Parkirnya susah minta ampun, sempat salah jalan 2 kali karena buru-buru. Kebetulan pas salah belok di parkiran, ada space kosong parkir paralel. Alhamdulillah lagi dapat parkirannya ga lama.

Langsung bergegas ke depan Balai Sarbini. Ah.., ternyata ga kebagian tiket. Mungkin karena udah terlambat. Sejuta penyesalan terlintas di kepala. Coba kemaren-kemaren beli aja di RajaKarcis.com atau seandainya hari ini bisa me-manage waktu dengan baik sehingga ga terlambat.

Emma udah kesal dan capek karena langsung dari kantor dan belum istirahat. Saya ajak Emma nunggu dulu di depan pintu masuk. Walaupun ragu, tapi saya yakin kalau saya pasti bisa masuk. Di luar Balai Sarbini ada sekitar 50-an orang yang sama-sama ga dapat tiket.

Panitia menerapkan sistem tiket dengan kartu magnetik –seperti ATM/kartu absen– sehingga tidak memungkinkan ada karcis palsu atau penonton yang pakai trik lama keluar-masuk tempat pertunjukan. Saya tanya-tanya sama para calo karcis, ternyata mereka juga ga punya karcis untuk dijual. Mungkin karena sistem canggih yang panitia terapkan memang ga memungkinkan calo karcis beroperasi.

Sekitar setengah jam sesudah pertunjukan dimulai, panitia yang diluar mulai menjual lagi sisa sekitar 10-an tiket yang tersedia. Panitia menjual dengan cara memilih secara acak dari orang-orang yang ada di luar. Sekali lagi saya ga kebagian, panitia memilih beberapa orang yang datang dari jauh dan rombongan yang kekurangan tiket.

Dapat Tiket GuestList
Pas rasanya sudah ga ada harapan lagi, tiba-tiba seorang calo menawarkan tiket VIP seharga 150.000,– per tiket. Ah.., saya sebenernya ga pake nawar pun mau beli, tapi saya coba tawar seharga 250.000,– untuk 2 tiket. Eh, ternyata langsung dikasih. Mungkin karena panitia sudah mau memasukkan sisa penonton yang masih di luar ini. Pas saya bayar, 3 calo yang tiketnya saya beli itu ribut masalah pembagian jatahnya.. haha.., ga tahu lah yang penting saya bisa masuk.

Ternyata tiket tersebut adalah tiket yang tersedia untuk tamu undangan. Nomor yang tertera di tiket tersebut adalah A024 dan A026. Saya ga tahu itu nomor apa, mungkin nomor kursi. Sayang pertunjukan sudah berlangsung satu jam dan seating sudah sulit karena mungkin sudah ditempati. Hmm.., mungkin sebenernya tiket saya untuk duduk di sebelah artis ya :D . Saya langsung saja duduk di tangga, posisi sangat strategis di dekat panggung. Enak bisa selonjoran :p

Beberapa menit kemudian saya lihat di kejauhan rombongan para penonton yang tidak kebagian tiket kelihatannya sudah bisa masuk. Alhamdulillah saya kebagian tiket juga sehingga sempat nonton lebih banyak.

Mengagumkan
Cuma satu kata itu yang menjelaskan kesan saya terhadap penampilan Trisum. Jujur aja saya ga tahu semua lagu yang dimainkan. Saya cuma kenal beberapa karya Bujana, Beberapa karya Tophati dan belum pernah dengar rekamannya Balawan. But they are the greatest guitarist in Indonesia. Permainan mereka sangat mengagumkan.

Walaupun saya telat hampir satu jam, saya masih kebagian lebih dari separuh pertunjukan. Sempat dengar 2 karya dari albumnya Bujana, kolaborasi dengan permainan sulingnya Bang Saad.

Kemudian Balawan masuk dari Tribun penonton, langsung lewat tengah-tengah penonton. Pertama dia langsung mencari sepasang ce-co dan memainkan ‘Loving You’ yang pernah dipopulerkan lagi oleh Shanice, penyanyi RnB itu. Selagi Balawan berkeliling diantara penonton, dia melihat Bang Iwan Fals dan langsung memainkan lagu lama Iwan Fals ‘Buku Ini Aku Pinjam’, lagu cintanya anak SMA awal tahun 90-an.

Selanjutnya di panggung, permainan tapping Balawan sangat menghibur penonton. Balawan memainkan gitarnya dengan menghasilkan beberapa efek seperti bunyi gendang, suara angin/air dan permainan lainnya.

Setelah Balawan, Mas Indro dengan permainan Gitar-Bass menguasai panggung. Emma senang dengan permainan Indro sejak dulu masih di home-band acara Kang Ebet Kadarusman — kalo ga salah nge-band bersama Kang Idang Rasyidi.

Kemudian Trisum tampil lagi dengan 3 lagu, salah satunya karya Tophati yang jadi Soundtrack film animasi ‘Mulan‘. Saya lupa judulnya, eh iya… ‘Nyanyian Pagi’ kali ya. Setelah 3 lagu itu, para pendekar gitar masuk ke belakang panggung sementara penonton tepuk tangan. Sebenarnya penonton ga teriak ‘Lagi.. lagi…’ tapi mungkin karena skenarionya begitu, mereka akhirnya keluar lagi dan memainkan 3 nomor lagi. Salah satunya dari Chic-Correa. Mungkin penonton Jakarta udah baca koran, jadi tahu waktu di Surabaya mereka pakai skenario begitu.

Sempat Bujana bercanda dengan bilang bahwa mereka ada permintaan main di luar negeri dan beberapa kota lain di dalam negeri. Tersebutlah kota Pacitan dan Trenggalek. Sayang Bujana ga sempat baca koran jadi mungkin ga tahu bahwa saat itu Trenggalek lagi kebanjiran. Yang ketawa juga jadinya agak sedikit.

Penonton Kurang Oke
Walaupun penampilan Trisum sangat mengagumkan, tapi sayang penontonnya malah kurang asik. Sangat pasif sekali, ga ada yang joget-joget atau tepuk tangan di saat lagunya asik banget. Yah tepuk tangan sih ada tapi standar lah, malah timing tepuk tangannya salah. Akibatnya sebagian permainan dialog Trisum ketutup tepuk tangan.

Tapi penonton memberikan standing applause dan tepuk tangan gemuruh tak seolah berhenti pada saat Trisum selesai. Puasnya tak terkira.

Selebriti dan Sekuter
Diantara penonton ada juga beberapa selebritis dan musisi kita. Ada terlihat beberapa musisi senior seperti Bang Iwan Fals, Mas Mus Mujiono, Bang Donny Fattah –bassist Gong2000/GodBless– dan beberapa musisi muda –kayanya ada Utopia– serta beberapa SeKuTer lainnya.

Saya sempat tanya kabarnya Bang Donny Fattah, sepertinya beliau lama ga kelihatan. Katanya beliau sibuk di luar Jakarta. Bang Iwan Fals segera pulang setelah pertunjukan dan sempat ikut berdesakan di pintu keluar. Terus si Boss Adrie Soebono sempat saya lihat di dalam ruang pertunjukan tapi kemudian turun sebelum acara selesai, mungkin ada yang dikerjakan. Boss pulang agak lama juga setelah acara selesai, naik 4-wheelernya.

Beli Souvenir
Ga lengkap datang ke konser tanpa beli pernak-pernik memorabilia. Ada poster Trisum dengan tanda-tangan personilnya, sudah dibingkai rapi. Bingkainya polos berwarna hitam, dengan kaca yang tidak anti-reflection. Harganya ga sesuai untuk kantong pengangguran. Saya lihat gerai yang lain saja. Ada CD dan Kaos yang harganya terjangkau buat saya.

Saya pengin beli kaos untuk teman di Manila yang ngerjain saya waktu tanggal 1 April kemarin. Tapi sayang kaosnya All-Size dan ada logo sponsornya. Saya sih ga masalah ada logo sponsor, tapi produk sponsornya yang ‘dapat menyebabkan kanker, serangan jantung…’ itu. Akhirnya tetap saya beli juga kaosnya.

Saya mau beli CD Trisum, langsung saya ambil tanpa lihat dan tanya dulu. Setelah saya beli, Emma kasih tahu saya bahwa yang saya beli adalah DVD. Aduh, pengangguran kaya saya ga punya DVD player. Tapi mungkin bisa juga nonton di PS2-nya adik saya.

HP LowBatt — Ga Bisa Foto
Dari semua yang memuaskan, cuma soal kamera saja yang mengecewakan. Pertama, ga bisa bawa digicam karena memory-cardnya ga ada. Rencana mau pakai kamera HP aja untuk foto-foto. Tapi ternyata HP pun lowbatt.

Walaupun posisi nonton cukup dekat dengan panggung, saya cuma sempat ambil 1 foto sebelum HP tersebut mati. Setelah keluar pun saya sempat dapat posisi strategis untuk memotret suasana kon-pres Trisum. Lumayan dapat 1 foto lagi. Dasar gaptek, saya ga ingat kalau kamera HP itu bisa melakukan zoom. Saya baru ngeh pas ngintip hp sebelah saya, kok dia bisa fotonya kelihatan lebih dekat. Tapi sudah terlambat, HP sudah ga mau nyala lagi sama sekali. Alhamdulillah dapat 2 foto. Terus sekarang fotonya mana…? Haha… belum ada kabel datanya, bro.

Pulang Ke Rumah
Selesai lah sudah acara nonton konser Trisum. Sebelum pulang saya temui dulu panitia yang mengurusi tiket, untuk bilang terima kasih bahwa akhirnya saya dapat masuk. Walaupun saya dapat tiket dari calo, tapi saya yakin calo pun dapat dari beliau ini. Saya ingat 3 undangan yang dia tidak mau jual pada saat kami berebut beli sisa tiket di luar.

Saya pulang dan tiba di rumah sekitar tengah malam. Emma sudah cape banget dan harus bangun pagi untuk kerja besoknya. Setelah sholat Isya, saya sempat baca-baca booklet konser tersebut dan akhirnya saya begadang lagi malam itu.

Hmm… kaya apa ya Trisum main ‘Begadang’ yang dari Soneta itu.. :p

Feedback

Mohon beri saya feedback tentang artikel ini
Saya akan sangat berbahagia bila anda mau memberikan Feedback kepada saya. Anda akan sangat membantu saya memperbaiki diri. Jawaban anda tidak akan ditayangkan di website, hanya untuk keperluan pribadi saya.
1. Bagaimana anda menemukan artikel ini?
Saya mencari topik ini Diberitahu teman Saya kesasar
2. Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini?
Bagus Jelek Biasa saja
3. Apakah artikel ini bermanfaat?
Ya Tidak bermanfaat Artikel ini tidak relevan
atau saya tidak sependapat
4. Bila anda datang bukan untuk topik ini, apakah yang sebenarnya sedang anda ingin ketahui?
5. Menurut anda, apakah yang seharusnya saya tulis?
Apakan anda memiliki pesan atau komentar lain?
» Yang anda tulis di sini tidak akan ditayangkan, silakan gunakan form di bawah bila anda ingin komentar anda ditayangkan di website ini.
Nama Anda (penting)
Email Anda (penting)
Terima kasih atas feedback anda
 

Comments»

no comments yet - be the first?